K a m a s a n
Kamasan
adalah sebuah komunitas seniman lukisan tradisional. Begitu intim dan
begitu lama berkembangnya seni lukis tradisional maka para seniman menyebut
hasil-hasil lukisan di sana memiliki gaya (style) tersendiri yaitu lukisan
tradisional Kamasan. Sesungguhnya bakat seni tumbuh pula pada karya-karya
seni lainnya yaitu berupa seni ukir emas dan perak dan yang terakhir ialah
seni ukir peluru. Meskipun dari segi material yang digunakan kain warna
logam mengikuti perubahan yang terjadi tetapi ciri khasnya tetap tampak
dalam tema lukisan atau ukiran yaitu menggambarkan tokoh-tokoh wayang.
Tokoh-tokoh wayang yang menjadi tema lukisan atau ukiran mengacu pada
cerita epos Mahabharata atau Ramayana, begitu juga cerita kekawin Arjuna
Wiwaha, Suthasoma. Oleh karena itu, lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau
Wayang Kamasan dapat dikatakan agak tua umurnya dari konteks sejarahnya
yang hingga sekarang masih nampak utuh. Menurut kesan para kolektor Internasional,
lukisan gaya Kamasan dianggap masih sangat halus dan canggih, bersih,
tidak ribut dengan detil yang tidak penting dan sangat jelas pesan ceritanya.
Lukisan atau ukiran tradisional yang berintikan wayang itulah yang membawa
daya tarik tersendiri bagi seniman atau wisatawan yang berkunjung ke desa
Kamasan.
Lokasi
Kamasan sebagai pusat berkembangnya lukisan dan ukiran tradisional adalah
nama sebuah desa di Kecamatan dan Kabupaten Klungkung. Desa Kamasan secara
geografis termasuk desa dataran rendah pantai Klotok atau pantai Jumpai
± 3 km. Jarak dari Denpasar ke desa ini ialah 43 km, dapat dicapai
dengan kendaraan bermotor, seluruh jalan menuju obyek yaitu pusat-pusat
lukisan atau kerajinan ukiran sudah diaspal.
Bisa ditempuh melalui tiga jalur yaitu : (1) Jalur Barat dari tengah-tengah
kota kabupaten ke arah selatan sepanjang 1,5 km berbelok ke kiri langsung
sampai banjar Sangging, tempat kediaman pelukis tradisional wayang yang
ternama yaitu Nyoman Mandra. Ke selatan sedikit lagi sampai ke banjar
Pande Mas, pusat ukiran emas, perak; (2) Jalur utara dari kota kabupaten
Klungkung agak di bagian timur ke arah selatan melalui belokan-belokan
jalan sampai di banjar Siku, juga tempat kediaman pelukis tradisional
yang bernama Mangku Mura; (3) Jalur selatan dari tengah-tengah kota Kabupaten
Klungkung ke arah selatan sepanjang 3 km melalui desa-desa Tojan dan Gelgel
sampai ke banjar Pande, pusat kerajinan ukiran tradisional bahan peluru.
Sepanjang jalan yang dilalui di banjar-banjar atau desa-desa, Tojan dan
Gelgel tetangganya masih terdengar dentangan palu para pengrajin ukir
perak dan peluru atau juga suara tenunan Cagcag yang menghasilkan kain
songket. Dapat disebut obyek-obyek disekitarnya ialah Kertha Gosa di kota
Klungkung, Pura Batu Klotok dan Pura Dasar di Gelgel yang memiliki riwayat
sisa-sisa kebesaran kerajaan Gelgel abad ke-15 dan ke-16 di Bali.
Fasilitas
Ada sebuah ruang pameran atau penjualan produk lukisan atau ukiran,
tempatnya di sebelah barat banjar Sangging, sekitar 50 meter. Sebuah sanggar
latihan melukis didirikan oleh Nyoman Mandra di rumahnya sendiri. Apabila
tamu-tamu berkunjung ke Kamasan maka lebih banyak dapat menikmati langsung
bengkel-bengkel kerja para seniman lukis atau ukir dirumahnya masing-masing.
Jalan yang dilalui seluruhnya beraspal bisa ditempuh kendaraan bermotor
(mobil, sepeda motor) atau tersedia pula angkutan tradisional dokar.
Kunjungan
Kamasan sebagai pusat produk lukisan atau ukiran tradisional
banyak mendapat kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara. Waktu
kunjungan mereka ialah pada siang hari. Para wisatawan yang berkunjung
ke Kamasan menggunakan peralatan sepeda motor, mobil, taxi atau dokar.
Deskripsi
Kamasan atau "Ka-emas-an" adalah nama yang cukup tua
untuk komunitas orang-orang yang mempunyai pekerjaan dalam bidang memadai
yaitu Pande Mas sesuai dengan nama salah satu banjar di desa Kamasan.
Bukit arkeologis yang ditemukan berupa tahta-tahta batu, arca menhir,
lesung batu, palungan batu, monolit yang berbentuk silinder, batu dakon,
lorong-lorong jalan yang dilapisi batu kali yang pernah ditemukan pada
tahun 1976 dan 1977, yang tersebar di desa-desa Kamasan, Gelgel dan Tojan,
memberi petunjuk bahwa komunitas cukup tua umurnya.Dari temuan arkeologis
itu juga memberi petunjuk bahwa tradisi megalitik pernah mewarnai kehidupan
komunitas di Kamasan dan sekitarnya, yaitu kehidupan komunitas pra Hindu
yang berakar pada masa neolitikum (+ 2000 tahun SM). Tradisi Megalitik
telah diserap oleh para undagi dan ke-pande-an pada periode kemudian.
Para Pande semakin dikenal dan difungsikan oleh Raja (Ida Dalem) sejak
kerajaan berpusat di Gelgel (1380-1651).Produk seni ukir pada logam emas
atau perak yang berbentuk pinggan (bokor, dulang dll) telah dijadikan
perlengkapan barang-barang perhiasan Keraton Suweca Linggaarsa Pura Gelgel.
Selain seni ukir, berkembang pula seni lukis wayang untuk hiasan di atas
kain berupa bendera (kober , umbul-umbul, lelontek), kain hiasan (ider-ider
dan parba) yang menjadi pelengkap dekorasi di tempat-tempat suci (pura)
atau bangunan di komplek Kraton.Sejak pemegang tahta II berkuasa yaitu
Dalem Waturenggong (1460-1550) kerajaan Gelgel mencapai puncak kemasyuran,
maka keemasan Kamasan merupakan desa pengrajin. Banjar-banjar yang ada
terutama Sangging dan Pande Mas dapat dikatakan banjar Gilda, kelompok
kerja, pengrajin yang terdiri dari rumah-rumah serta bengkel-bengkel dimana
para warganya tinggal, bekerja dan mengabdi kepada sang Raja hingga pada
akhir hayat mereka.Raja dipandang sebagai dewa raja yang bertugas menjaga
agar jagad (alam semesta dan isinya) senantiasa ada dalam keadaan seimbang
dan selaras. Oleh karena seni dipandang sebagai unsur penting dalam menjaga
keselarasan itu lewat karya seni sakral maka menjadi tugas penguasa untuk
melindungi serta memelihara kesenian.Pada waktu pusat kekuasaan dipindahkan
dari Gelgel ke Klungkung, oleh Dewa Agung Jambe tahun 1686, keturunan
langsung dari Dinasti Kresna Kepakisan di Gelgel, kedudukan desa Kamasan
yang berintikan Sangging dan Pande Mas sebagai banjar Gilda pengrajin
tempat para seniman lukisan dan ukiran tetap dipertahankan.Akan tetapi
sekarang sesudah Klungkung berubah menjadi ibukota kabupaten Propinsi
Bali dan para keturunan Raja serta bangsawannya menjadi pejabat dan pegawai
RI, banjar Sangging dan Banjar Pande Mas bukan lagi banjar Gilda dari
sang Raja. Meskipun demikian, para seniman dan pengrajin Sangging, pande
mas dan Banjar-banjar lainnya : Siku, Geria, Kacangdawa, Peken Pande dan
Tabanan masih terus menghasilkan lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau
gaya wayang.Perluasan produk pengrajin telah beragam, tidak hanya terbatas
pada ukiran emas dan perak tetapi muncul pula seni ukir yang berbahan
tembaga atau kuningan dan peluru. Produk kesenian mereka berupa lukisan
atau ukirannya banyak dipesan oleh wisatawan mancanegara atau nusantara.
Begitu juga, sejalan dengan meningkatnya turisme, toko-toko souvenir dan
seni di Klungkung, atau pasar seni Gianyar dan Denpasar serta hotel-hotel
juga menjadi pelanggan yang tetap dari produk kesenian gaya wayang di
Kamasan.
|