Identifikasi dan Daya Tarik
Lingkungan Pura Taman Sari yang diantaranya terdiri dari dua buahmeru
Tumpang sebelas dan meru tumpang sembilan serta dasarnya dilandasi oleh
kura-kura raksasa, dikelilingi oleh kolam, dibelit oleh naga Ananthaboga,
mengisahkan pada saat para dewa memutar air kehidupan (amerta) untuk kebahagiaan
dan kesejahteraan.
Lokasi
Lingkungan Pura Taman Sari terletak di Banjar Sengguhan, arah timur laut
kota Semarapura, sejauh kurang lebih 500 meter, dapat dicapai dengan kendaraan
baik roda dua maupun roda empatsertas jalannya sudah diaspal. Tepatnya
di Kelurahan Semarapura.
Kunjungan
Lingkungan Pura Taman Sari belum banyak mendapat kunjungan wisatawan,
hanya dikunjungi dalam rangka penelitian yang berkaitan dengan obyek penelitian
pra sejarah.
Deskripsi
Letak Pura Taman Sari di sudut Timur Laut Kota Klungkung kira-kira 500
meter dari pusat kota. Keindahan Pura ini terlihat dari menyembulnya Meru
Tumpang Sebelas dan Meru Tumpang Sembilan dari sebuah kolam. Dari ragam
hias Tumpang Sebelas dapat kita maklumi bahwa meru tersebut ibarat Gunung
Maha Meru yang dilandasi oleh kura-kura raksasa, terbenam di lautan susu.
Kemudian para dewa dan raksasa memutar gunung Maha Meru dengan naga Ananthaboga
sebagai pembelitnya. Dengan pusingan gunung tersebut di lautan susu kan
dihasilkan berbagai macam produk, diantaranya adalah Amerta (air kehidupan).
Demikianlah macam produk, diantaranya adalah Amerta (Air kehidupan). Demikianlah
menurut ceritera yang termuat dalam Adi Parwa akan kebesaran arti dari
Amerta sebagai pemberi air hidup dunia serta kesejahteraan dan kesucian.
Tema ceritra tersebut sangat cocok dengan fungsi kehidupan lingkungan
Pura Taman Sari. Lingkungan Pura Taman Sari sebagai tempat memuliakan
danmenyimpan senjata pusaka kebesaran Majapahit yang dimiliki oleh Dynasti
Kepakisan sebagai penguasa yang ditugaskan oleh Raja Majapahit untuk mengatur
ketentraman pulau Bali. Sekalipun senjata-senjata kebesaran yang sangat
dimuliakan sudah dirampas oleh Belanda dalam perang Puputan Klungkung
pada tahun 1908, namuan hiasan Padma Anglayang sebagai lambang kekuasaan
Majapahit masih terdapat pada lingkungan Pura ini. Lingkungan Pura ini
dibangun pada akhir abad ke XVII yaitu ketika mulai perpindahan raja keturunan
dinasti Kepakisan dari Gelgel ke Klungkung sebagai sesuhunan di Bali.
Saat-saat terpenting tercatat dari Lingkungan Pura Taman Sari ialah ketika
Dewa Agung Istri Kania memerintah untuk menghancurkan penyerbuan Belanda
tahun 1849 di Kusamba. Dari lingkungan Pura Taman Sari beliau menugaskan
untuk mempergunakan senjata pusaka yang bernama I Seliksik kepada prajurit
Klungkung . Misi penugasan ini berhasil dengan gemilang, tentara Belanda
porak poranda di pantai Kusamba dan kerugian yang terbesar adalah gugurnya
Jendral Michiels dalam pertempuran tersebut. Sejak dipugar oleh Suaka
Purbakala Bali mulai tahun 1979 maka keindahan lingkungan pura ini telah
kembali seperti sedia kala